Posted by : Unknown Kamis, 04 Juli 2013

NARSIS ? Apakah Baik ?



                Ini Adalah Postingan Pertama Saya, pada postingan pertama kali ini saya akan membahas tentang "Narsis", yang biasa kita ketahui Narsis adalah orang-orang yang sangat percaya diri yang memampangkan dirinya seindah mungkin agar ia mendapatkan perhatian dari orang lain. Pada jejaring sosial yang biasa kita kenal seperti Facebook, Twitter Dan lain sebagainya, banyak orang yang "Narsis", entah dalam konteks Photo mereka yang dibuat semenarik mungkin dan sebagus mungkin, ataupun dengan Updatean Status mereka. Yah walaupun semua itu hanya untuk mendapatkan perhatian dari orang lain.

                Kembali ke pembahasan awal, bagaimana dengan orang yang selalu seperti itu ? apakah Narsis itu baik ? . Pengertian dari narsis itu sendiri atau disebut narsisme or narsistik berawal dari mitologi Yunani kuno tentang seorang pemuda tampan yang bernama Narsisus. Narsisus adalah putra dewa sungai, Cephissus. Pada saat itu Echo, seorang dewi yang tidak bisa berbicara, jatuh cinta kepadanya. Namun Narcisus bertindak kejam dan menolak cinta Echo. Pada suatu hari, Narsisus melewati sebuah danau yang sangat bening airnya dan melihat pantulan dirinya sendiri. Narsisus sangat mengagumi dan jatuh cinta pada pantulan itu. Narsisus sangat ingin menjamah dan memiliki wajah yang dilihatnya, tapi setiap kali mengulurkan tangannya untuk meraih pantulan itu, bayangan itu kemudian menghilang.

                Narsisus tetap menunggu di tepi danau untuk mendapatkan bayangan yang menjadi obyek kekagumannya sampai mau menceburkan dirinya sendiri ke dalam danau dan akhirnya mati. Para dewa merasa kasihan padanya, sehingga Narsisus ditranformasikan menjadi tumbuhan berbunga yang diberi nama Narsisus berwarna kuning cerah, dan dikenal juga dengan nama Yellow Daffodil. Mitologi ini digunakan dalam Psikologi pertama kalinya oleh Sigmund Freud (1856-1939) untuk menggambarkan individu-individu yang menunjukkan cinta diri yang berlebihan. Freud menamakan “The narsissists” dan pelakunya disebut individu narsisistik atau seorang narsisis (http://www.psikologiums.net).

                Lebih lanjut Fromm berpendapat, narsisme merupakan kondisi pengalaman seseorang yang dia rasakan sebagai sesuatu yang benar-benar nyata hanyalah tubuhnya, kebutuhannya, perasaannya, pikirannya, serta benda atau orang-orang yang masih ada hubungan dengannya. Sebaliknya, orang atau kelompok lain yang tidak menjadi bagiannya senatiasa dianggap tidak nyata, inferior, tidak memiliki arti, dan karenanya tidak perlu dihiraukan. Bahkan, ketika yang lain itu dianggap sebagai ancaman, apa pun bisa dilakukan, melalui agresi sekalipun (Pikiran Rakyat, 14/04/2003).

·         Secara umum ciri-ciri orang narsistik antara lain yaitu :

1.       Superior. Superior atau paling hebat tetapi tanpa upaya yang sepadan dengan cita-cita atau kepentingannya itu,
2.       Tak berempati, tidak mampu mengenali atau mengetahui perasaan dan kebutuhan orang lain, Iri, sering merasa iri dengan orang lain atau yakin bahwa orang lain iri pada dirinya,
3.       Fantasi, dipenuhi dengan fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, kepintaran, kecantikan atau cinta sejati,
4.       Istimewa, mengganggap diri istimewa dan selalu meminta perlakuan khusus dari orang-orang yang berada disekitanya, meskipun itu merugikan orang lain, Sombong dan congkak, karena merasa dirinya yang paling hebat maka tidak jarang memperlihatkan perilaku atau sikap yang congkak dan sombong.


           Dari Ciri-ciri diatas, ada beberapa faktor yang menyebabkan orang bisa menjadi seorang narsisme. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah faktor keturunan dan faktor persekitaran. Narsis biasanya timbul akibat daripada pujian dan penghormatan yang diterima berulang kali daripada individu lain. Sebagai contoh, seseorang akan berasa dirinya cantik karena acapkali menerima pujian bahawa dirinya cantik meskipun pada awalnya dia tidak merasa dirinya sedemikian. Narsis tidak hanya termanifestasi pada perilaku yang gemar memuji dirinya sendiri, kerap menghadap cermin atau kerap bergaya persis model, tetapi juga terdapat implikasi lain daripada sikap narsis itu sendiri.

           Menurut Hidayat (2004), narsisme merupakan gangguan kepribadian dan merupakan gangguan jiwa yang mempunyai prevalensi cukup tinggi, yaitu 5%-15% dan termasuk yang tidak mudah diobati. Penyebabnya diduga karena keturunan atau genetik (dijelaskan melalui penelitian terhadap 15.000 pasangan kembar, satu dan dua telur), temperamental (terkait dengan genetik atau keturunan, dapat diidentifikasi sejak masa kanak-kanak), biologik (hormon, neurotransmitter tertentu) dan psikodinamik (berbagai faktor psikologis).

             Mitchell JJ dalam bukunya, The Natural Limitations of Youth, bilang ada lima penyebab kemunculan narsis pada remaja, yaitu adanya kecenderungan mengharapkan perlakuan khusus, kurang bisa berempati sama orang lain, sulit memberikan kasih sayang, belum punya kontrol moral yang kuat, dan kurang rasional. Kedua aspek terakhir inilah yang paling kuat memicu narsisme yang berefek gawat.


Kesimpulannya :  Narsis Menurut Penelitia Sebuah gangguan, akan tetapi itu bisa menjadi sesuatu hal yang baik bagi kita, karena dengan adanya sifat narsis pada dilim diri kita tertumbuhlah sikap rasa percaya diri kita akan kelebihan yang dimiliki pada diri kita. yah walaupun jangan sampai narsis dalam konteks berlebihan sampe-sampe hanya mementingkan diri sendiri saja. wah bisa gawat tuh ...



Sekian Postingan pertama dari saya, mohon maaf bila kurang dimengerti ...


Sumber :

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 All About My Expresi - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -